Volume Air Laut Meningkat, Bagaimana Burung Bisa Terdampak?

22 Maret, 2025

Perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan gletser mencair semakin cepat. Antara tahun 2000 dan 2023, gletser dunia secara kolektif kehilangan 6.542 triliun ton es sehingga menyebabkan kenaikan permukaan air laut global setinggi 18 mm (0,7 inci). Setiap tahun, gletser di dunia kehilangan rata-rata 273 miliar ton es, setara dengan konsumsi air selama 30 tahun oleh seluruh populasi global.

Menurut studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Edinburg dan University of Zurich (2025), sepanjang abad ini, gletser telah kehilangan sekitar 5% dari total volumenya. Kehilangan regionalnya sangat bervariasi, seperti pulau-pulau di Antartika dan sub-Antartika kehilangan 2% volumenya dan gletser di Eropa Tengah kehilangan 39% volumenya.

Perbedaan yang mencolok dalam jumlah es yang hilang setiap dekade juga ditemukan, dengan 36% lebih banyak es yang meleleh antara tahun 2012 dan 2023 dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Kepala departemen geografi dan ilmu lingkungan di Northumbria University, Prof. Andrew Shepherd mengatakan, data tersebut penting karena menyoroti bahwa laju pencairan gletser ternyata semakin cepat tiap tahunnya. Hilangnya gletser menyebabkan sejumlah masalah baru, seperti berkurangnya pasokan air tawar dan volume air laut yang meningkat.

“Bahkan, kenaikan permukaan laut dalam jumlah kecil pun menjadi penting karena menyebabkan banjir pesisir lebih sering terjadi. Setiap sentimeter kenaikan permukaan laut membuat 2 juta orang terancam banjir tahunan di suatu tempat di planet kita,” katanya.

Peningkatan volume air laut, juga berdampak pada satwa liar yang hidup di sekitarnya, seperti burung. Setiap tahun, ada jutaan burung yang singgah di lahan basah pesisir pantai. Namun, mereka dapat mati karena naiknya volume air laut.

Perairan Desa Uwedikan, Luwuk, Banggai Kepulauan (Foto: Burung Indonesia/Muhammad Meisa)

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Program Lingkunan Nasional, didukung oleh pemerintah Australia (2013), menyebut hilangnya 23 hingga 40 persen tempat mereka mencari makan utama dapat menyebabkan penurunan populasi sebesar 70 persen.

Salah satu peneliti, Richard Fuller, menjelaskan setiap tahun ada jutaan burung pantai yang singgah di lahan basah pesisir untuk beristirahat dan mencari makan saat mereka bermigrasi dari Rusia dan Alaska ke pantai-pantai di Asia Tenggara dan Australasia. Namun, beberapa lahan basah kondisinya sudah sangat rentan karena kenaikan permukaan air laut. Jika burung-burung tidak bisa lagi singgah di area itu untuk mencari makan, kemungkinan mereka tidak bisa menyelesaikan perjalanannya hingga akhir.

Tidak hanya burung migran, spesies burung pesisir juga terancam akibat kenaikan permukaan air laut global. Air pasang yang menjadi lebih tinggi memungkinkan air asin terdorong lebih jauh ke daratan menuju rawa-rawa air asin dan hutan dataran tinggi. Ketika air asin sudah membanjiri ekosistem pesisir, hal ini dapat menyebabkan perubahan signifikan pada vegetasi yang menjadi tempat burung-burung mencari makan dan berlindung.

Studi yang dijalankan oleh Profesor dari NC State, Chris Moorman (2019), memproyeksikan kenaikan permukaan laut melaju dengan sangat cepat sehingga dapat menenggelamkan sebagian rawa-rawa air asin di dunia pada tahun 2100. Akibatnya, banyak burung yang bergantung pada ekosistem ini tidak memiliki habitat.

Ketika permukaan air laut naik, tanaman di rawa air asin dapat “bermigrasi” ke daratan dan ke hutan atau lahan basah yang berdekatan untuk mencari kondisi pertumbuhan yang ideal. “Burung-burung rawa terjebak di antara naiknya permukaan air laut dan penggunaan lahan yang dapat menjadi penghalang migrasi rawa. Jika migrasi rawa tidak dibiarkan terjadi, burung-burung ini dapat punah karena mereka tidak punya tempat untuk pergi,” ujarnya.

Gajahan pengala (Foto: Burung Indonesia/Jihad)

Menurut studi yang dilakukan oleh Brooke L. Bateman, dkk (2020), kenaikan permukaan air laut merupakan salah satu dari sekian banyak ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap burung-burung di 90% wilayah Amerika Serikat. Ketika permukaan air laut naik, burung-burung pesisir kehilangan daerah pesisir yang aman dan sehat untuk bersarang. Pulau-pulau dataran rendah akan segera terendam air da tidak dapat mendukung burung-burung yang bersarang langsung di atas pasir, seperti burung camar.

Ekosistem di kawasan pesisir yang terancam menimbulkan sejumlah masalah baik bagi burung migran atau burung pesisir. Hal tersebut juga menjadi perhatian di Indonesia. Biasanya, burung pengembara dari utara berkembang biak di bulan Mei sampai Juli yang bertepatan dengan musim panas di bumi belahan utara. Setelah periode tersebut, pada bulan Agustus sampai September burung-burung mulai melakukan migrasi karena musim dingin akan datang. Beberapa daerah pesisir di Indonesia menjadi tempat persinggahan burung migran dan habitat berbagai jenis burung air, seperti mangrove.

Salah satu wilayah yang menjadi persinggahan adalah Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Di sana, banyak burung migran yang singgah sebentar, seperti cikalang kecil (Fregata ariel), trinil pantai (Actitis hypoleucos), trinil semak (Tringa glareola), gajahan pengala (Numenius phaeopus), dan berkik rawa (Gallinago megala).

Selain Banggai Kepulauan, wilayah pesisir di Gorontalo, juga menjadi perhatian serius. Beberapa satwa endemis tinggal di sana, seperti maleo senkawor (Macrocephalon maleo), tarsius, serta satwa laut lain.

Untuk melindungi satwa-satwa di wilayah pesisir, tim Burung Indonesia hadir memberikan edukasi ke masyarakat setempat melalui kegiatan perlindungan ekosistem mangrove di Banggai Kepulauan dan Gorontalo. Edukasi yang diberikan juga terkait dengan budi daya olahan mangrove untuk membantu perekonomian warga desa.