Penguburan Pertama di Dunia, Teladan dari Burung Gagak dalam Kisah Nabi Adam a.s.

18 Maret, 2025

Allah Swt mengajarkan manusia untuk menyayangi dan menghormati semua makhluk hidup, termasuk burung. Dalam Al-Qur’an, kata burung (dalam bahasa Arab “At-Thayr”), disebutkan lima kali, sementara kata burung-burung “thuyur” muncul 13 kali. Salah satu jenis burung yang dibahas adalah burung gagak dalam kisah Nabi Adam a.s.

Setelah diusir dari surga, Nabi Adam a.s. dan istrinya Hawa turun ke bumi. Mereka dikaruniai dua pasangan anak kembar laki-laki dan perempuan. Mereka adalah Qabil-Iqlima dan Habil-Labuda. Ketika mereka sudah baligh, Allah Swt memerintahkan Nabi Adam a.s. untuk menikahkan mereka dengan saudara yang bukan pasangan kembarnya. Alhasil, Qabil akan dinikahkan dengan Labuda dan Habil dinikahkan dengan Iqlima. Melihat ini, Qabil tidak terima lantaran paras Labuda tidak secantik saudara perempuannya, Iqlima. Makanya, Qabil dipenuhi dengan rasa iri dan dengki.

Puncak rasa dengki dan kekesalannya tiba saat Qabil mengetahui kurban yang ia persembahkan tidak diterima oleh Allah Swt. Dibendung amarah, suatu malam, Qabil berhasil membunuh Habil. Namun, setelah merenggut nyawa saudaranya, dia lantas menyesal dan bingung melihat jenazah saudaranya terkapar tak berdaya. Pada akhirnya, Allah Swt mengutuskan dua burung gagak yang berkelahi hingga salah satunya mati. Dengan keadaan yang sama, burung gagak yang masih hidup menggali tanah lalu memasukkan bangkai burung gagak yang mati ke dalamnya. Melihat itu, Qabil langsung meniru. Hal itu menjadi penguburan pertama di dunia yang tertulis dalam Al-Qur’an, surat Al-Ma’idah ayat 31.

Fa ba‘aṡallāhu gurābay yabḥaṡu fil-arḍi liyuriyahū kaifa yuwārī sau’ata akhīh(i), qāla yā wailatā a‘ajazta an akūna miṡla hāżal-gurābi fa uwāriya sau’ata akhī, fa aṣbaḥa minan-nādimīn(a).

Artinya: “Kemudian, Allah mengirim seekor burung gagak untuk menggali tanah supaya Dia memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana cara mengubur mayat saudaranya.210) (Qabil) berkata, “Celakalah aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehingga aku dapat mengubur mayat saudaraku?” Maka, jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal.

Gagak hutan (Foto: Burung Indonesia/Jihad)

Kecerdasan burung gagak tidak hanya dibahas dalam Al-Qur’an. Sejumlah studi juga membuktikkannya. Menurut penelitian yang berjudul “Ravens Parallel Great Apes in Physical and Social Cognitive Skills” (2020) oleh Pika Simone, dkk., pada usia empat bulan, burung gagak mempunyai kemampuan kognitif lengkap. Bahkan, sebelum mencapai kedewasaan penuh, mereka dapat menyaingi kera besar dewasa.

Burung gagak juga memiliki ingatan yang bagus. Kemampuan memori mereka lebih baik dibandingkan hewan lain. Hal ini diungkapkan oleh ahli biologi John Marzluff dalam studinya berjudul “Social Learning Spreads Knowledge About Dangerous Humans Among American Crows” (2011). Dalam penelitiannya, Marzluff menemukan burung gagak dapat menyimpan dendam. Burung gagak dapat mengingat wajahnya dan tidak senang ditangkap serta diperhatikan olehnya. Tidak hanya itu, mereka memberi tahu burung gagak lain tentang pengacau manusia dengan memberi tanda bahaya saat muncul sehingga mereka juga ikut membenci dan bertindak agresif.

Bukan hanya dendam, gagak juga mengingat momen-momen indah. Menurut studi yang berjudul “Ravens Remember the Nature of a Single Reciprocal Interaction Sequence Over 2 Days and Even After a Month” (2017) oleh Bugnyar T., dkk, gagak dapat mengingat manusia yang menipu mereka dengan makanan ringan. Namun, mereka akan bersikap lebih ramah terhadap manusia yang menunjukkan perilaku adil. Selain itu, mereka juga terkenal sebagai hewan yang mempunyai kemampuan belajar dan dapat memecahkan permasalahannya.

Gagak merupakan anggota burung pengicau yang tersebar di seluruh benua, kecuali Amerika Selatan. Burung ini berwarna hitam pekat, termasuk paruh dan kakinya. Sorot matanya tajam dan mereka selalu waspada terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka kerap ditemukan bersama kelompoknya. Gagak dapat memakan apa saja yang tersedia makanya termasuk burung omnivora. Selain serangga, amfibi kecil, dan ular, mereka juga memakan bangkai hewan.

Di dunia, gagak terkenal di beberapa kebudayaan dan mitologi, termasuk Indonesia. Gagak dapat disebut sebagai peramal maut yang ulung. Dahulu kala, jika ada burung gagak kampung berkaok-kaok di sekitar rumah, pemilik rumah yang percaya akan mitos kehadiran burung ini, dapat menyebabkan kekhawatiran karena dipercaya sebagai pertanda ajal akan segera menjemput. Teriakan rendah dan berat pun jadi mimpi buruk penduduk.

Mungkin, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah gagak kampung memang paling akrab dengan bangkai. Begitu ada bangkai, rombongan gagak akan langsung datang berbondong-bondong mengerubuti bangkai itu. Jadi, kedatangan gagak di perkampungan atau sekitar perumahan diindikasikan sebagai ramalan bahwa di tempat itu ada atau bakal ada makhluk yang jadi bangkai. Alhasil, semua orang ketakutan dijemput maut dan mengusir si gagak agar jauh-jauh dari rumahnya.

Gagak banggai (Foto: Burung Indonesia/Riza Marlon)

Menurut data Burung Indonesia, ada lebih dari 10 jenis gagak di Indonesia. Dari catatan itu, ada dua jenis yang menarik perhatian lantaran statusnya, yaitu gagak flores (Corvus florensis) yang berstatus Endangered atau Genting dan gagak banggai (Corvus unicolor) yang berstatus Critically Endangered atau Kritis.

Selama 115 tahun sejak spesimen dikoleksi, tidak ada catatan perjumpaan gagak banggai lagi, bahkan pada ekspedisi yang dijalankan pada 1981, 1991, dan 1996. Spesies gagak yang terlihat hanyalah gagak hutan. Diduga, di habitat dataran rendah yang terganggu, gagak hutan menggantikan relung gagak banggai. Deforestasi yang marak di kepulauan tersebut memperkuat dugaan bahwa gagak banggai mungkin telah punah.

Gagak banggai hanya ditemukan di hutan yang utuh, berbeda dengan gagak lain yang diuntungkan oleh perubahan hutan alam menjadi perkebunan dan permukiman. Gagak banggai mirip dengan gagak endemis di Kepulauan Nusantara lainnya, seperti gagak flores, gagak sulawesi, dan gagak halmahera.

Namun, gagak banggai berhasil ditemukan kembali pada tahun 2004, 2006, dan 2007 oleh sekelompok pengamat dan peneliti burung di Pulau Peling. Data ekologis dan populasi gagak banggai ini akhirnya dapat ditentukan. Diperkirakan lebih dari 90 persen populasinya terkonsentrasi di lereng barat hutan perbukitan pada ketinggian 900 mdpl, dengan sejumlah individu dewasa lainnya ditemukan pada ketinggian lebih rendah di bagian tengah pulau seluas 2.325 km² tersebut.

Saat ini, upaya konservasi terhadap gagak banggai semakin ditingkatkan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perlindungan habitat alami dan program restorasi di Banggai Kepulauan mulai membuahkan hasil positif. Penemuan kembali populasi gagak banggai memberikan harapan baru bagi konservasi spesies ini. Para peneliti terus memantau populasi dan habitatnya untuk memastikan kelangsungan hidup gagak banggai di tengah ancaman deforestasi dan perubahan iklim yang terus berlangsung.

Selain itu, upaya edukasi kepada masyarakat lokal tentang pentingnya pelestarian hutan dan spesies endemis juga sedang digencarkan. Diharapkan dengan partisipasi aktif dari masyarakat setempat, konservasi gagak banggai dapat lebih efektif dan berkelanjutan.