PROGRAM BURUNG INDONESIA
Indonesia memiliki kekayaan spesies hidupan liar dan ekosistem yang tidak
dijumpai di lokasi lain di dunia ini. Memiliki 27,500 spesies tumbuhan berbunga
(10% dari total jumlah spesies tumbuhan berbunga dunia), 515 spesies satwa
mamalia (12% dari total jumlah spesies satwa mamalia dunia), 511 spesies reptilia
, 270 spesies amfibia (16% dari total jumlah spesies amfibia dunia) dan 1,598
spesies burung (17% dari total jumlah spesies burung dunia) memberikan gambaran
betapa Indonesia menjadi salah satu pusat kekayaan keanekaragaman hayati dunia.
Melestarikan kekayaan tersebut menjadi satu hal penting untuk mencegah berlanjutnya
kerusakan dan sekaligus menjamin ketersediaan sumber daya melalui penentuan
strategi konservasi yang tepat. Pengidentifikasian daerah-daerah yang kaya
akan keanekaragaman hayatinya menjadi salah satu bentuk strategi yang dapat
dilaksanakan. Burung, dalam hal ini, menjadi salah satu indikator penting dalam
mengidentifikasi daerah-daerah prioritas untuk membandingkan daerah yang satu
dengan yang lainnya. Dengan informasi taksonomi spesies dan penyebaran terlengkap,
burung menjadi indikator sempurna selain karena habitatnya yang berada di seluruh
daratan bumi dan kepekaannya terhadap perubahan lingkungan.
Namun, strategi penyelamatan keanekaragaman hayati pun tidak hanya semata-mata
didasarkan pada kekayaan spesies semata. Jumlah spesies dengan penyebaran terbatas,
dalam hal ini burung, juga dapat menjadi salah satu faktor penentuan daerah
prioritas penyelamatan keanekaragaman hayati tersebut. Hasil identifikasi spesies
burung dengan sebaran terbatas dan analisis daerah-daerah pusat keendemikan
burung memperlihatkan 218 daerah terkonsentrasinya spesies burung sebaran terbatas
di seluruh dunia, yang dikenal dengan nama Daerah Burung Endemik (DBE). Indonesia
memiliki 23 jumlah DBE yang merupakan jumlah terbesar di dunia. Jumlah DBE
terbanyak di Indonesia terdapat di wilayah Wallacea yaitu sebanyak 10 DBE.
Penggunaan DBE sebagai perangkat perencanaan pelestarian keanekaragaman hayati
telah membantu Burung Indonesia menentukan prioritas untuk penentuan lokasi
program konservasinya. Saat ini, Burung Indonesia memiliki lima program
lapangan yang berada di Pulau
Sumba, Kepulauan Sangihe
Talaud, Kepulauan Tanimbar, Pulau Halmahera, dan Mbeliling. Kelima program berada pada bioregion Wallacea. Pendekatan
DBE, kekayaan jumlah spesies burung terancam punah dan tekanan terhadap habitatnya
menjadi beberapa faktor penentu prioritas lokasi program Burung Indonesia
tersebut.
Di sisi lain, tekanan dan ancaman terhadap hutan dataran rendah di Sumatra
menjadi salah satu pokok bahasan global saat ini. Diperkirakan bahwa sisa luasan
hutan dataran rendah di Sumatra hanya tersisa 500,000 ha saja. World Bank pada
tahun 2000 memperkirakan bahwa hutan dataran rendah Sumatera akan habis dalam
waktu yang sangat dekat jika tidak ada tindakan segera untuk menyelamatkannya.
Hal ini mendorong Burung Indonesia bersama dengan BirdLife International
dan Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), memulai sebuah inisiatif
pemulihan hutan dataran rendah di Pulau
Sumatera. Inisiatif ini diimplementasikan
melalui sebuah program restorasi ekosistem hutan yang akan menjadi model pengelolaan
kawasan hutan, khususnya hutan produksi, secara lebih lestari dan berkelanjutan.
Konsep ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia, bahkan di dunia, yang
menjadi harapan baru penyelamatan hutan dataran rendah Sumatera.
Secara umum, keberadaan program Burung Indonesia memang tidak terlepas dari
tujuan pelestarian ekosistem, khususnya hutan, dan potensi keanekaragaman hayatinya.
Melalui sebuah bentuk pengelolaan kawasan hutan, khususnya kawasan konservasi,
Burung Indonesia berharap dapat menjadikan program-programnya sebagai model
bagi upaya pelestarian ekosistem hutan tersebut. Lebih jauh lagi, sesuai dengan
visi yang diembannya, program Burung Indonesia bertujuan menyelamatkan berbagai
spesies burung dari ancaman kepunahan dan membantu pelestarian habitat-habitatnya.
Diketahui, 98 % burungburung sebaran terbatas di Indonesia sangat tergantung
pada keberadaan hutan, bahkan 67 % diantaranya hanya ditemui di habitat hutan,
sehingga pelestarian kawasan hutan secara tidak langsung akan menjadi salah
satu faktor pendorong pelestarian burung-burung tersebut.
Area kerja Burung Indonesia meliputi:
|