Tentang BIBerita & AgendaProgramPusat DataKeanggotaanMerchandisesLinksBirdkeeping

pada


10 September 2010 - 3:05 am  

Ani Mardiastuti, Ahli Burung Liar Indonesia - Panggilan Hati dari Alam
 
12-03-2010

Kecintaan pada alam membawa Prof Dr Ir Ani Mardiastuti, MSc sebagai salah satu ahli burung yang mumpuni. Di rumahnya yang asri di Sentul City, di antara pepohonan serta kicauan burung, KARTINI berbincang dengannya, mengupas pengalaman hidup serta problematika satwa liar di Indonesia.

Siang sepulang dari mengajar, Ani, begitu ia kerap disapa, nampak masih sibuk membuka jendela-jendela rumahnya. Mengenakan kemeja biru, sosoknya nampak begitu bersahaja berbalut kepribadian yang ramah dan hangat.

Baru saja kami duduk seekor burung bercericit. "Itu burung wikwik, orang Sunda menyebutnya begitu“, jelasnya tanpa menoleh ke arah suara. Tak diragukan kalau ia memang seorang ahli burung. Setelah itu KARTINI memintanya menyebut nama suara burung yang kebetulan terbang melintas. Ada burung kutilang, kacamata, srigati, cabe-cabe dan beberapa burung lain. Di rumahnya yang asri dan banyak pepohonan, burung-burung memang kerap datang, terbang dari satu dahan ke dahan lainnya.

BERALIH DARI PRIMATA KE BURUNG

Selepas menyelesaikan S1 IPB pada 1982, Ani langsung bekerja di almamaternya tersebut. Tapi keinginan untuk memperluas pengetahuan tak berhenti sampai di situ. Tak berselang lama Ani menuju Amerika Serikat untuk melanjutkan sekolahnya di Michigan State University hingga mencapai gelar master dan Doktor bidang Biologi dan Ekologi Satwa Liar, Wildlife Biology and Ecology, dengan spesialisasi burung liar.

la menceritakan bahwa apa yang dilakoninya selama ini adalah suatu ketidaksengajaan. Dulunya ia hanya punya keinginan mengambil spesialisasi primata, bukan burung. "Waktu itu kan banyak orang asing yang mengambil spesialisasi primata dan mempelajarinya juga di Indonesia. Makanya saya sangat tertarik, apalagi masih sedikit ahli primata kita sendiri". Sayangnya, pilihan itu bukan menjadi garis hidupnya.

Dosen pembimbingnya memberitahu kalau tidak ada pakar primata di univeristas tersebut. la disarankan memilih spesialisasi lain atau ganti universitas. Ani memilih pindah spesialisasi, yakni burung. Alasannya sangat realistis. "Saya menyadari suatu saat saya akan sulit ke lapangan karena saya juga seorang ibu. Kalau spesialisasinya burung, penelitiannya tak perlu jauh-jauh sampai ke pedalaman misalnya. Di kota atau di dekat kampus pun ada".

Pilihan itu justru mengantar Ani menjadi salah satu jajaran ahli burung liar Indonesia. Prof Dr Ir Ani Mardiastuti, MSc pun menjadi narasumber dan pakar keanekaragaman satwa umumnya dan burung liar khususnya. Sampai-sampai ada istilah khusus buatnya, 4 L. Sebab bila bertemu rekannya saat diundang sebagai pembicara, mereka mengomentari, ‘Lu lagi, Lu lagi…’ saking seringnya jadi narasumber. "Mungkin juga nggak ada yang tertarik mendalami burung liar, jadi Lu lagi, Lu lagi," katanya sambil tertawa.

Selain berkecimpung di dunia pendidikan Ani juga bergabung di Burung Indonesia, sebuah LSM yang berkecimpung dalam bidang pelestarian burung liar serta habitatnya di Indonesia. Pada tahun 2002 ia dipercaya menjabat Ketua Dewan hingga sekarang.

 

 

Foto: Kosim & Dok. Pribadi

DALAMI PERDAGANGAN SATWA

Beberapa tahun belakangan ini topik riset Ani bergeser dari burung ke perdagangan satwa liar. Menurutnya, masih sedikit yang mempelajari perdagangan satwa liar secara spesifik. "Sudah sekitar 4-5 tahun ini saya melakukan penelitian tentang perdagangan satwa liar, termasuk mengerjakan pemetaan daerah rawan perdagangan satwa liar. Tak hanya burung saja, juga binatang lainnya yang dijual secara liar, khususnya jenis-jenis yang sudah langka."

la mengaku menggeluti topik ini membuatnya banyak belajar karena penelitian mengenai perdagangan satwa ini melibatkan banyak pihak. Misalnya saja penegak hukum, pemburu dan pengumpul di lapangan, karakteristik pembeli dari berbagai lapisan masyarakat dan sebagainya. "Dari mereka saya mendapatkan berbagai cerita yang menarik."

Mengamati burung-burung liar di Indonesia yang sering diperjualbelikan, Ani menyimpulkan beberapa burung yang masih jadi primadona untuk diperdagangkan. Contohnya saja, untuk dijual ke pasar luar negeri yang diminati adalah burung paruh bengkok seperti nuri atau kakaktua. Sedangkan di dalam negeri lebih banyak diperjualbelikan burung-burung ocehan.

"Sejarah membuktikan bahwa perburuan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kelangkaan dan bahkan kepunahan. Contoh saja burung dodo yang sudah punah akibat diburu manusia," jelas Ani. Burung dodo adalah burung yang diperkirakan telah punah 200 tahun yang lalu. Dodo digambarkan mirip dengan burung rangkong, merupakan endemik Mauritius.

Ani melakukan riset di berbagai daerah dan yang paling disukainya adalah saat riset di Suaka Margasatwa Pulau Rambut Teluk Jakarta mengenai burung-burung air. Saya senang riset di sana. Selain burung-burungnya berukuran besar, sehingga saya tidak perlu menggunakan binokuler, juga banyak jenis burung air yang berkumpul di sana. Jadi sekaligus bisa melakukan beberapa penelitian dengan topik yang berbeda."

Namun di mana pun tempatnya, kata Ani, hampir semua tempat yang pernah dikunjunginya itu indah dan menarik. "Indonesia itu kaya akan tempat yang masih alami, di Flores, Lampung, Rote, Kalimantan Timur, Halmahera, Papua, dan banyak lagi daerah-daerah yang masih sangat alami dan memukau."

Hasil risetnya kini menjadi rujukan para pengamat dan calon-calon pengamat burung liar yang kelak akan meneruskan jejaknya. Lebih dari itu di, ia mengakui dengan rendah hati, membuatnya semakin pintar dan paham banyak hal. Ini membuatnya mumpuni dalam memberikan masukan-masukan kepada orang lain, sehingga mengukuhkan dirinya sebagai ahli burung liar Indonesia. "Saya berharap mahasiswa saya ada yang menekuni permasalahan burung ini, setidaknya punya komitmen pada kelestarian lingkungan,“ harapnya.

PANGGILAN DARI ALAM

Meneliti dunia burung, sungguh tak biasa bagi seorang perempuan. Ani pun menyadari itu. Namun masa kecil yang sungguh mengesankan, menarik-narik agar Ani dewasa kembali ke sana, ke wilayah hutan nan rimbun.

Kecintaan Ani pada alam memang sudah dipatri sejak usianya masih kanak-kanak. Kala itu ayah Ani adalah seorang PNS yang bekerja di Perusahaan Negara Kereta Api. Karena profesi itu, Ani dan keluarga sering berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah.

Tinggal di suatu daerah membuat Ani kecil tumbuh berbeda dengan anak-anak yang lain. Misalnya saja dalam hal hiburan, ia tak bisa menikmati hiburan yang sama dengan yang tinggal di kota besar. Ayah-ibunya mengajaknya berwisata menjelajah alam.

"Setiap tahun pasti saya pergi bersama keluarga, misalnya ke Danau Ranau, berperahu ke Sungai Musi, atau berkendara naik mobil ke luar kota. Kami rutin melakukannya,“ terawang Ani mengenang masa kecilnya.

Jalan-jalan rutin ini ternyata juga turut meniti jalan hidup seorang Ani. "Mungkin kecintaan saya terhadap alam muncul dari situ,“ ungkap perempuan yang telah bercucu satu ini.

Selepas SMA, Ani mengikuti kata hatinya yang sudah memakunya pada alam dan menerbitkan keinginannya untuk mempelajarinya lebih dalam. la memutuskan kuliah di Institut Pertanian Bogor dan memilih Fakultas Kehutanan dengan kekhususan mengenai konservasi satwa. Baginya hutan tak hanya sebatas pohon. la melihatnya dengan perspektif yang lebih luas, hutan sebagai suatu ekosistem secara keseluruhan, mencakup satwa serta segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Apakah alam dan hutan tidak berbahaya bagi seorang perempuan sepertinya? "O, tidak. Selama saya melakukan riset di hutan dan jalan-jalan di alam, boleh dikatakan saya tidak merasakan bahaya besar. Yang penting kita selalu waspada dan meyakini bahwa kita ini sesungguhnya merupakan bagian yang kecil dari alam. Tidak boleh takabur."

Saat KARTINI menanyakan tentang hikmah menjelajahi alam dalam memperkaya batinnya, Ani menyatakan jika ia dekat dengan alam, ia merasa dekat dengan dirinya sendiri dan Sang Pencipta. Juga, ia dapat menghargai alam, seraya mensyukuri kehidupan.

DIDUKUNG ANAK DAN SUAMI

Berkunjung ke lapangan menjadi hal yang tak bisa dilepaskan dalam kehidupan Ani. Pergi hingga berhari-hari bisa dikatakan menjadi menu keseharian perempuan kelahiran 25 September ini. Terutama sewaktu anak-anaknya masih kecil, ia sering bepergian untuk melakukan riset. Namun setelah mereka menginjak bangku SMP dan SMA, aktivitas lapangan itu mulai berkurang. "Saya pikir saat-saat itu adalah saat yang penting bagi mereka. Masa remaja tantangannya sangat besar dibandingsewaktu mereka kecil.”

Meski mengaku sering berpergian dan sibuk, anak-anaknya, Angga Prasetya, Anugerah Firdaus, Andya Nugraha serta Gadis Khasanah juga mendukung akyivitasnya. “Anak-anak tidak melarang, tapi sayanya harus tahu diri,” katanya sembari tertawa. Begitupun suaminya, dr Tony Soehartono. “Saya tahu kalau saya terlalu lama pergi, suami akan merasa sepi. Apalagi tinggal di rumah hanya berdua saja dengan suami, karena anak-anak kami sudah besar."

Saat riset untuk kepentingan penelitian S3, ia jarang berada di rumah. "Bisa 2 minggu di lapangan, dua minggu di rumah." Namun ia mengaku tidak mengambil lokasi riset tempat yang jauh-jauh seperti yang dilakukan teman-temannya yang mengambil spesialisasi primata. Itulah yang menurut Ani menjadi salah satu keuntungan sebagai ahli burung. "Bukannya tidak suka pergi ke tempat yang jauh dan memakan waktu yang lama, tetapi saya ingin membagi waktu dengan keluarga juga. Jadi menyesuaikan dengan kondisi saya sebagai seorang istri dan ibu.”

Setelah anak-anak tumbuh dewasa, aktifitas lapangan semakin banyak ia kurangi. Ani lebih sering berada di rumah atau bekerja sama dengan mahasiswa. Hanya sesekali saja datang ke lapangan dan ke luar kota. "Kasihan suami, walaupun ia mengizinkan tapi tentu rasanya akan sepi kalau saya harus pergi setiap saat.“ Namun ia mengaku tetap siap jika suatu saat dibutuhkan ke lapangan. (Vena)

Sumber: Majalah Kartini No. 2264 (18 Februari - 14 Maret 2010)

 

Lainnya :
 
Press Release Burung Indonesia
Restorasi Ekosistem di Indonesia, Cara Efektif Mengurangi Emisi dari Deforestasi di Hutan Produksi
Menanti Bidadari Halmahera Menari
Di Balik Deforestasi dan Degradasi Lahan
Finalis Ernst & Young Social Entrepreneurship 2009

lainnya...
 

© 2004-2010, Burung Indonesia, hak cipta nama, logo, dan karya dilindungi Undang-undang
Last updated: 09 September 2010 - Rancangan laman oleh Burung Indonesia - Kontak laman: webmaster (at) burung.org
Burung Indonesia adalah mitra BirdLife International di Indonesia