Program Halmahera

Pulau Halmahera terletak di bagian utara Provinsi Maluku Utara yang dikenal dengan bentuknya yang menyerupai huruf K, seperti halnya Pulau Sulawesi. Beberapa hasil penelitian global mengatakan bahwa Pulau Halmahera merupakan salah satu hotspot untuk keanekaragaman hayati, yang salah satu indikatornya diukur melalui keberadaan burung-burung endemiknya. Diketahui, dari 26 spesies burung endemik di Kepulauan Halmahera, 24 diantaranya ditemukan di Pulau Halmahera dan 4 spesies merupakan endemik di Pulau Halmahera. Selain itu, Halmahera juga memiliki beberapa spesies endemik seperti 2 marga tumbuhan, 1 spesies mamalia, 2 spesies amfibi, 3 spesies belalang, 3 spesies capung, 1 spesies kupu-kupu raja dan 20 spesies keong darat. Pada tahun 1995, berdasarkan hasil survey potensi keanekaragaman hayati dan tingkat kebutuhan konservasi di areal Lolobata dan Aketajawe, Departemen Kehutanan dan BirdLife International-Indonesia Programme menghasilkan sebuah usulan perubahan status kawasan Lolobata dan Aketajawe menjadi Taman Nasional. Lebih lanjut, pada tahun 1997, Pengkajian Sistem Kawasan Lindung bagi kawasan Indo-malaya mencantumkan kedua areal tersebut sebagai kawasan proritas yang harus dikukuhkan sebagai kawasan lindung, sehingga penetapan kawasan-kawasan tersebut menjadi sebuah hal yang harus dilakukan. Di sisi lain, tekanan terhadap kondisi lingkungan di Halmahera pun termasuk tinggi. Konversi areal hutan seringkali terjadi untuk keperluan transmigrasi, pertanian, perkebunan, pembalakan komersial, serta perburuan satwa liar menjadikannya ancaman bagi keberadaan hutan beserta spesies-spesies tersebut diatas. Pada bulan Oktober 2004, atas dukungan pemerintah daerah melalui Bupati Halmahera Timur, Bupati Halmahera Tengah, Walikote Tidore Kepulauan dan Gubernur Maluku Utara, pemerintah melalui Departemen Kehutanan menunjuk kedua areal tersebut sebagai Taman Nasional, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 397/Menhut-II/2004. Saat ini Burung Indonesia sedang melaksanakan Program Kemiteraan untuk pengelolaan konservasi di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Pulau Halmahera, didukung oleh GEF-World Bank (periode: 2007 - 2012) dan Konservasi Paruh Bengkok Endemik Maluku Utara, didukung oleh Loro Parque Foundation. Program ini melanjutkan kegiatan BirdLife International-Indonesia Program antara tahun 1994-1999, dimana survei telah dilaksanakan untuk mengidentifikasi lokasi prioritas telah bagi konservasi serta perlindungan keragaman hayati di wilayah ini. Hasil keseluruhan program ini adalah untuk menurunkan ancaman utama terhadap ekosistem hutan Aketajawe dan Lolobata. Tujuan ini akan dicapai melalui kesepakatan-kesepakatan yang akan dibuat antara Pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta, dan Pengelola Taman Nasional, dengan memastikan perencanaan yang terpadu, pemantauan yang efektif serta saling berbagi informasi, apabila perlu didukung dengan penyelidikan dan tindakan terhadap pelanggar hukum oleh pihak berwenang. Guna memastikan keberlanjutan dampak tersebut, program ini akan memfasilitasi pembentukan forum pengelolaan kolaboratif dan membangun kapasitas para pihak terkait untuk berpartisipasi di dalamnya secara efektif.
Kontak: David Purmiasa
Jl. Sultan Khairun No. 36
Kp. Makasar, Ternate, Kec. Ternate Utara
Kota Ternate Utara, Provinsi Maluku Utara
Telepon. +62 921 23950
Fax. +62 921 23950
Email: davidp@burung.org; burung.halmahera@burung.org
|