Penangkaran Murai Batu di Jambi Gagal
05-01-2009
JAMBI, RABU - Penangkaran species burung murai batu
yang sempat dikembangkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)
Provinsi Jambi beberapa tahun tahun lalu akhirnya gagal, karena kurang
mendapat dukungan dana dari pemerintah pusat dan daerah. "Semula
penangkaran burung murai batu yang mulai langka di Jambi itu sempat
berhasil, namun akhirnya gagal karena terbentur dana," kata Kepala
BKSDA Provinsi Jambi, DR. Ir. Didy Wurjanto, M.Sc di Jambi, Rabu
(24/12). Species tersebut mulai langka atau terjadi penurunan
populasi yang cukup tajam selain kerusakan hutan juga tingginya
penangkapan dan minat masyarakat penggemar burung berkicau di Jambi
untuk memeliharanya. Populasi murai batu kini hanya ditemukan di
kawasan pedalaman hutan konservasi seperti Taman Nasional Kerinci
Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNB) dan Taman Nasional
Berbak (TNB). Itupun jumlahnya tidak seberapa. BKSDA Jambi hingga
kini belum memiliki data yang pasti jumlah populasi species murai batu,
sehingga perlu dilakukan penelitian. Para penggemar burung berkicau di
Jambi sampai kini juga belum ada yang berhasil menangkarkan murai batu
berwarna kuning dan hitam, karena untuk memeliharanya saja juga amat
susah atau perlu ketelatenan agar bisa bertahan hidup lama. "Kami
berharap ada masyarakat penggemar burung berkicau mengembangbiakan
murai batu, seperti jalak Bali kini telah berhasil dikembangbiakan
masyarakat di Bali dan Jawa. BKSDA Jambi akan membantu dari segi teknis
pengembangbiakannya," tambahnya. Species burung murai batu itu
memungkinkan bisa dikembangbiakkan masyarakat, terutama para penggemar
burung berkicau, lain dengan satwa langka lain seperti harimau Sumatera
(Phantera tigris sumaterae) diburu dengan membunuh karena beberapa
bagian tubuh akan dijual dengan harga mahal ke luar negeri. Harga
burung murai batu yang diperjualbelikan di pasar lokal Jambi rata-rata
Rp300.000-Rp500.000 per ekor. Jika kicauannya sudah jadi harganya bisa
mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per ekor. Udin, salah seorang
penjual burung murai batu di Jambi mengatakan, untuk mendapatkan burung
tersebut di hutan Jambi kini semakin sulit. "Anak buah saya
terkadang bisa seminggu sampai dua minggu berada di hutan mencari murai
batu, itupun hasilnya tidak memuaskan terkadang sama sekali tidak
dapat," katanya. WAH Sumber : Antara
Sumber Berita : Kompas
Lainnya :
• Orange-headed Thrush Zoothera citrina and the avian X-factor
• Foto Fahrul P. Amama
• Foto Nick Hall 2
• Foto Nick Hall 1
• Mendisain dan Mengimplementasikan Tehnik Survey Rumah Tangga untuk Membangun Solusi Berbasis Fakta
lainnya...
|